Aksi Curanmor Marak di Wilayah Kota Surabaya Guru Besar Unair Ungkap Penyebab dan Solusinya – Berita24Jam

Surabaya, Berita24Jam.ID – Maraknya kasus Pencurian kendaraan bermotor (curanmor) di Surabaya pada beberapa hari ini masih menjadi salah satu masalah utama dan menjadi perhatian serius banyak pihak.

Guru Besar Fisip Universitas Airlangga (Unair) Surabaya Prof Bagong Suyanto memberikan pandangan terkait fenomena curanmor yang meresahkan warga Surabaya, karena hampir tidak ada merek sepeda motor yang terhindar dari aksi pencurian Akomodasi di Surabaya

“Semua jenis kendaraan roda dua saat ini bisa dikatakan rawan dicuri,” ujarnya Prof Bagong Rabu, (15/1/2025) siang.

Ia dengan tegas bahwa pengamanan dari pihak Kepolisian tidak lah cukup untuk mengatasi masalah ini, karena jumlah aparat terbatas dan tak bisa mengawasi seluruh wilayah secara maksimal.

“Jumlah aparat penegak hukum sangat tidak sebanding dengan jangkauan wilayah dan masyarakat yang dilayani,” jelasnya.

Maka dari itu Pemilik Kendaraan bermotor juga bisa mengembangkan pengamanan secara mandiri, mulai dari kewaspadaan hingga menambah kunci pengaman ganda, agar terhindar dari pencurian.

“Lebih tingkatkan kewaspadaan di daerah rawan pencurian jangan lengah, bila perlu tambah kunci ganda,” Tambahnya.

Namun, masalahnya tidak semua masyarakat selalu waspada, apalagi para pelaku pencurian kini lebih cepat dan cangih dalam melaksanakan aksinya.

“Kecepatan dan kecanggihan pelaku ini harus diimbangi dengan meningkatkan kewaspadaan masyarakat. Ini yang tampaknya belum match, sehingga muncul angka-angka yang makin mencemaskan,” katanya.

Ia menerangkan, pencurian kendaraan bermotor adalah kejahatan yang direncanakan dengan tujuan mendapat keuntungan materi, oleh karena itu patut di waspadai oleh semua pihak.

“Pencurian dan begal termasuk kejahatan instrumental. Kalau melihat angka curanmor meningkat, ini sebetulnya mengkhawatirkan,” terangnya.

Meningkatnya angka pencurian kendaraan bermotor, menurutnya, adalah refleksi dari kesulitan masyarakat dalam terserap di sektor formal dan semakin banyaknya individu yang beralih ke sektor informal atau bahkan terjerumus ke dalam dunia kejahatan.

“Saat ini tampaknya orang makin susah untuk terserap ke sektor formal yang legal. Kemudian mereka masuk ke sektor informal yang ilegal, bahkan termasuk tindak kejahatan,” kata Prof Bagong.

“Tindak kejahatan ini tak hanya terjadi di Surabaya, tapi di seluruh wilayah Indonesia. Jadi tak ada kaitannya dengan etnis atau kewilayahan. Ini soal jejaring yang bisa terjadi di mana pun,” jelasnya.

Untuk mengatasi masalah ini, Prof. Bagong menekankan perlunya upaya untuk memotong mata rantai kejahatan.

“Solusinya adalah memotong mata rantai. Ini tugas aparat hukum untuk membongkar semua jaringan,” katanya.

Aparat kepolisian juga memegang peran penting dalam membongkar jaringan curanmor yang semakin terorganisir. Namun, dalam hal pengamanan, Prof. Bagong menekankan pentingnya peran masyarakat.

“Penyelesaian masalah ini bukan hanya tanggung jawab polisi, tetapi juga masyarakat yang harus secara mandiri mengembangkan kewaspadaan dan pengamanan,” tandasnya.

(Sigit Santoso)

Yuk! baca artikel menarik lainnya di GOOGLE NEWS

Post Views: 48

Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *