Pintar, Kuat, Sat-set – Berita24Jam
SURABAYA, Berita24Jam.ID – Sebanyak 1.324 kader perempuan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Jawa Timur mengikuti Latihan Perempuan Siaga (Latansa) M1 di kawasan Coban Rondo, Malang, Minggu (20/9/2026).
Kegiatan yang diinisiasi Bidang Kepanduan dan Bela Negara (BKBN) DPW PKS Jawa Timur tersebut tidak sekadar menjadi ajang pembinaan fisik. Latansa M1 juga diarahkan untuk memperkuat kekompakan, komunikasi, kebugaran, serta kesadaran peserta terhadap pentingnya pola hidup sehat.
Sejumlah materi diberikan kepada peserta, mulai dari kesehatan dan kebugaran, permainan kelompok, hingga kegiatan long march. Rangkaian kegiatan berlangsung dengan suasana penuh semangat dan melibatkan kader perempuan dari berbagai wilayah di Jawa Timur.
Kegiatan tersebut ditutup oleh Anggota DPR RI dari Fraksi PKS, Dr. Reni Astuti, M.PSDM. Reni merupakan Anggota DPR RI dari daerah pemilihan Jawa Timur I.
Dalam kesempatan itu, Reni menyampaikan pesan mengenai karakter yang menurutnya perlu dimiliki kader perempuan PKS. Ia merangkumnya dalam akronim PKS, yakni Pintar, Kuat, dan Sat-set.
“Perempuan harus lebih tangguh dan sat-set dalam merumuskan dan mengambil keputusan,” ujar Reni, Selasa (22/9/2026).
Menurut Reni, makna pintar bagi perempuan tidak hanya berkaitan dengan kemampuan berpikir. Ia mengaitkannya dengan tiga anugerah yang harus dijaga dan dikembangkan, yakni akal, jasad, dan qolbu.
Ketiganya, kata Reni, membutuhkan asupan yang baik agar dapat berfungsi secara optimal.
Akal, Jasad, dan Qolbu Harus Terus Dikuatkan
Reni menjelaskan, akal perlu terus digunakan untuk hal-hal positif dan produktif. Ia juga menekankan pentingnya nilai-nilai Al-Qur’an sebagai bagian dari pembentukan cara berpikir kader.
“Bagaimana akal kita terus kita gunakan untuk hal-hal yang positif, diwarnai dengan nilai-nilai Al-Qur’an sehingga pikiran kita menjadi pikiran yang produktif dan ilmiah,” ujar Reni.
Selain akal, kesehatan jasmani juga menjadi perhatian. Menurut dia, menjaga jasad merupakan salah satu bentuk rasa syukur yang dapat diwujudkan melalui kebiasaan hidup sehat.
Ia mendorong kader perempuan untuk rutin berolahraga, melakukan latihan kardio dan otot, mencukupi kebutuhan air putih, serta mengonsumsi makanan sehat.
Sementara itu, qolbu atau hati juga disebut tidak boleh diabaikan. Reni mengingatkan pentingnya mengisi hati dengan ibadah, hafalan Al-Qur’an, serta berkumpul dengan orang-orang saleh.
Bagi Reni, kemampuan untuk menjadi pintar juga berarti memiliki kepekaan terhadap kondisi lingkungan sekitar.
“Kita harus pintar memahami situasi sekitar kita. Jangan sampai kita tinggal di suatu wilayah tapi tidak mengenali tetangga, tidak tahu persoalan yang ada di kampung. Itu adalah medan dakwah kita,” tegasnya.
Ia menilai kader perempuan perlu memahami kondisi lingkungan tempat mereka berada, termasuk berbagai potensi persoalan yang dapat muncul di masyarakat.
Salah satunya adalah kesiapsiagaan menghadapi bencana. Reni mencontohkan pentingnya memahami potensi kebencanaan di berbagai daerah, mulai dari Malang, Lumajang, Banyuwangi, Surabaya, Tulungagung hingga Trenggalek.
Menurutnya, pemahaman terhadap kondisi wilayah tersebut diperlukan agar kesiapsiagaan dan kontribusi kader dalam menghadapi persoalan kebencanaan dapat dilakukan secara maksimal.
Karakter Kedua: Kuat dalam Ilmu dan Amal
Karakter kedua yang ditekankan Reni adalah kuat.
Ia menjelaskan bahwa perempuan PKS diharapkan memiliki kekuatan dalam ilmu sekaligus amal. Menurutnya, kedua hal tersebut perlu terus dikembangkan melalui proses pembinaan yang berkelanjutan.
Reni menyebut Unit Pembinaan Anggota (UPA) sebagai salah satu ruang tumbuh bagi kader PKS.
“UPA adalah tempat ruang tumbuh kita. UPA menjadi pintu gerbang kita untuk memperluas keilmuan dan meningkatkan amal-amal kita,” katanya.
Melalui pembinaan tersebut, kader diharapkan tidak hanya mendapatkan tambahan pengetahuan, tetapi juga memiliki ruang untuk meningkatkan kualitas amal dan kontribusinya di tengah masyarakat.
Karakter ketiga yang disampaikan Reni adalah sat-set. Istilah tersebut dimaknai sebagai sikap sigap dan segera menyambut seruan dakwah tanpa terlalu banyak pertimbangan.
Menurut Reni, semangat tersebut terlihat dalam antusiasme para peserta Latansa M1. Bahkan, kegiatan itu diikuti kader dengan latar belakang dan usia yang beragam.
Salah satu peserta merupakan ibu menyusui yang membawa bayi berusia tiga bulan. Selain itu, terdapat pula peserta berusia 71 tahun yang tercatat memegang 12 UPA.
Keikutsertaan peserta dengan kondisi dan usia yang beragam tersebut menjadi bagian dari semangat kegiatan Latansa M1 yang berlangsung di kawasan Coban Rondo.
Reni Ingatkan Jalan Dakwah Membutuhkan Keistiqamahan

Dalam kesempatan tersebut, Reni juga mengingatkan bahwa jalan dakwah merupakan perjalanan panjang. Bahkan, menurut dia, perjalanan tersebut lebih panjang daripada usia manusia.
Karena itu, diperlukan keteguhan sekaligus keistiqamahan dalam menjalankannya.
Pesan tersebut menjadi salah satu penekanan dalam penutupan Latansa M1. Reni berharap berbagai proses pembinaan yang dijalani para kader dapat menjadi bekal untuk terus memberikan kontribusi dan menghadirkan kebaikan di lingkungan masing-masing.
“Semoga apa yang kita upayakan dan perjuangkan ini dilihat Allah. Dengan menjadi pintar, kuat, dan sat-set, perempuan PKS akan menjadi lokomotif gerbang kebaikan,” pungkasnya.
Latansa M1 dibuka langsung oleh Ketua DPW PKS Jawa Timur Bagus Prasetia Lelana. Kegiatan tersebut juga dihadiri jajaran pengurus BKBN DPW PKS Jawa Timur di bawah komando Komandan Kukuh Nurma Nugroho.
Rangkaian kegiatan berlangsung hingga sesi penutupan dengan suasana penuh semangat. Panitia juga memberikan apresiasi dan hadiah kepada sejumlah peserta berdasarkan kategori yang telah ditentukan.
Apresiasi tersebut antara lain diberikan kepada peserta terjauh, peserta dengan capaian hafalan dan lari terjauh, serta peserta senior.
Dengan rangkaian kegiatan tersebut, Latansa M1 menjadi ruang pembinaan yang memadukan aktivitas fisik, kebersamaan, kesehatan, komunikasi, serta penguatan nilai-nilai yang menjadi bagian dari pembinaan kader perempuan PKS Jawa Timur.
Pesan Reni mengenai tiga karakter—pintar, kuat, dan sat-set—menjadi penutup utama kegiatan tersebut. Ketiganya ditempatkan sebagai nilai yang diharapkan dapat terus dibawa peserta setelah kembali ke lingkungan masing-masing.
(Sigit Santoso)
Yuk! baca artikel menarik lainnya di GOOGLE NEWS
Atau ikuti saluran Pojokredaksi.com di WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029VaZI37C5fM5j3NDDF61G
Post Views: 2









