Ekonomi Keluarga Jangan Halangi Anak Meraih Cita-Cita – Berita24Jam
SURABAYA, Berita24Jam.ID — Keterbatasan ekonomi keluarga tidak boleh menjadi penghalang bagi anak-anak untuk meraih cita-cita dan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Pesan tersebut disampaikan Anggota Komisi X DPR RI, Reni Astuti, saat mengunjungi sejumlah sekolah di Surabaya, Selasa (27/10/2026).
Dalam kunjungan kerja pada masa reses tersebut, Reni menyambangi SDN Keputih 1, SDN Medokan Ayu 1, dan SMPN 23 Surabaya. Ia mengajak para pelajar membangun karakter positif melalui Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat sebagai bekal untuk meraih masa depan yang lebih baik.
Menurut Reni, keberhasilan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh nilai akademis, tetapi juga oleh kebiasaan sehari-hari yang membentuk kedisiplinan, kesehatan, kemandirian, serta tanggung jawab sosial anak.
Ia mendorong para siswa membiasakan diri bangun pagi, beribadah, berolahraga, mengonsumsi makanan sehat dan bergizi, gemar belajar, bermasyarakat, serta tidur lebih awal.
“Gerakan 7 kebiasaan ini adalah fondasi dasar karakter yang harus kita bangun sejak dini. Ketika anak-anak terbiasa disiplin, menjaga kesehatan, rajin beribadah, dan gemar belajar, maka ikhtiar mereka dalam menjemput cita-cita besar akan jauh lebih kokoh,” ujar Reni.
Pendidikan karakter menjadi bekal masa depan
Reni menilai, pembentukan karakter perlu berjalan beriringan dengan proses pembelajaran di sekolah. Kebiasaan positif yang dilakukan secara konsisten diharapkan dapat membantu anak tumbuh menjadi pribadi yang sehat, mandiri, berakhlak mulia, dan memiliki kepedulian terhadap lingkungan sosialnya.
Ia menekankan bahwa pendidikan karakter bukan sekadar rutinitas yang dijalankan untuk memenuhi kewajiban sehari-hari. Lebih dari itu, kebiasaan tersebut menjadi bagian dari proses membentuk generasi yang mampu menghadapi tantangan dan mengambil peran dalam pembangunan bangsa.
Karena itu, para pelajar didorong untuk mulai membangun kedisiplinan sejak dini, termasuk dalam mengatur waktu, menjaga kesehatan, menjalankan ibadah, dan memanfaatkan kesempatan belajar secara maksimal.
Bagi Reni, kebiasaan sederhana yang dilakukan secara berkelanjutan dapat menjadi modal penting bagi anak untuk mengembangkan kemampuan dan mempersiapkan diri menghadapi jenjang pendidikan berikutnya.
Ia juga mengingatkan agar anak-anak tidak merasa rendah diri hanya karena kondisi ekonomi keluarga. Setiap pelajar perlu memiliki kesempatan untuk berkembang dan mengejar impian sesuai dengan kemampuan serta minatnya.
Dorong siswa Surabaya berani bermimpi kuliah
Dalam kesempatan tersebut, Reni menegaskan bahwa latar belakang ekonomi orang tua tidak seharusnya membatasi keberanian anak dalam menentukan masa depan.
Menurutnya, pelajar dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi tetap berhak memiliki cita-cita tinggi, baik menjadi dokter, insinyur, guru, ilmuwan, maupun menekuni profesi lain yang bermanfaat bagi masyarakat.
Ia mengajak para siswa menjadikan keberadaan perguruan tinggi di Surabaya sebagai sumber motivasi untuk terus meningkatkan prestasi. Sejumlah kampus, seperti Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dan Universitas Airlangga (Unair), dapat menjadi tujuan pendidikan yang mulai mereka persiapkan sejak bangku sekolah.
Reni berharap kedekatan tempat tinggal dengan perguruan tinggi tidak hanya membuat para pelajar mengenal kampus-kampus tersebut, tetapi juga menumbuhkan keinginan untuk melanjutkan pendidikan ke sana.
“Saya berharap anak-anak yang rumahnya berdekatan dengan kampus-kampus negeri maupun PTS terbaik yang ada di Surabaya itu tidak hanya menjadi penonton, tetapi bagaimana kemudian mereka benar-benar tertarik untuk mewujudkan berkuliah di sana. Karena itu, mulai sekarang harus lebih giat dan disiplin dalam menuntut ilmu,” dorong Reni.
Ia mengingatkan, cita-cita melanjutkan pendidikan tinggi perlu disertai usaha nyata. Para siswa harus membangun kebiasaan belajar yang baik, meningkatkan kedisiplinan, dan memanfaatkan waktu untuk mengembangkan pengetahuan serta keterampilan.
Dengan persiapan sejak dini, pelajar diharapkan memiliki bekal yang lebih kuat untuk menghadapi persaingan pendidikan dan menentukan pilihan masa depan.
PIP dan KIP Kuliah perlu terus disosialisasikan
Selain mendorong pembentukan karakter dan semangat belajar, Reni menyoroti pentingnya pemerataan akses pendidikan. Menurutnya, kesempatan melanjutkan pendidikan harus terbuka bagi anak-anak dari berbagai latar belakang ekonomi.
Ia mengingatkan perlunya mengoptimalkan akses informasi mengenai program bantuan pendidikan, termasuk Program Indonesia Pintar (PIP) dan Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah, bagi keluarga yang membutuhkan.
Informasi mengenai program bantuan tersebut dinilai penting agar peserta didik dan orang tua dapat mengetahui peluang dukungan pendidikan yang tersedia serta memahami jalur untuk mengaksesnya sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Reni menilai, dorongan kepada anak agar berprestasi perlu diikuti dukungan dari lingkungan keluarga, sekolah, dan pemerintah. Pembentukan karakter akan semakin bermakna apabila disertai upaya memperluas kesempatan belajar dan membantu siswa memperoleh informasi pendidikan yang relevan.
Sinergi tersebut diharapkan dapat menumbuhkan kepercayaan diri pelajar, terutama mereka yang menghadapi keterbatasan ekonomi, sehingga tidak mudah menyerah dalam mengejar pendidikan dan cita-cita.
“Masa depan anak-anak kita tidak boleh dibatasi oleh tebal atau tipisnya dompet orang tua. Tugas kita bersama, baik orang tua, sekolah, maupun pemerintah, adalah memastikan akses dan jalan menuju pendidikan tinggi itu terbuka lebar bagi siapa saja yang mau berjuang,” tandas politisi PKS ini.
Kepala SMPN 23 Surabaya apresiasi kunjungan
Sementara itu, Kepala SMPN 23 Surabaya, Mas’ulah, mengapresiasi perhatian Reni Astuti terhadap dunia pendidikan di Surabaya.
Menurut Mas’ulah, kunjungan tersebut memberikan dorongan semangat bagi para siswa untuk lebih giat belajar. Kehadiran anggota DPR RI itu juga disambut antusias oleh para pelajar dan menjadi kesempatan bagi pihak sekolah untuk menyampaikan aspirasi.
Ia menyebutkan, sejumlah aspirasi yang sebelumnya disampaikan oleh guru maupun siswa telah terealisasi. Meski demikian, naskah sumber tidak merinci bentuk maupun jumlah aspirasi yang telah ditindaklanjuti tersebut.
“Kami sangat senang dan berterima kasih atas kunjungan Bu Reni ke sekolah kami. Anak-anak sangat antusias dan termotivasi. Juga aspirasi para guru maupun siswa yang diutarakan beberapa di antaranya telah terealiasi. Semoga dengan adanya kunjungan ini, para siswa semakin giat dalam belajar,” tuntas Mas’ulah.
Kunjungan ke sekolah-sekolah tersebut menyoroti pentingnya pendidikan karakter, motivasi belajar, serta keterbukaan akses menuju pendidikan tinggi. Pesan yang disampaikan Reni menekankan bahwa keterbatasan ekonomi tidak semestinya memadamkan cita-cita anak.
Dengan kebiasaan positif, kedisiplinan, dukungan keluarga dan sekolah, serta akses informasi bantuan pendidikan, para pelajar diharapkan dapat terus mengembangkan potensi dan mempersiapkan masa depan.
(Sigit Santoso)
Yuk! baca artikel menarik lainnya di GOOGLE NEWS
Atau ikuti saluran Pojokredaksi.com di WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029VaZI37C5fM5j3NDDF61G
Views: 2










