Potensi Abrasi, Jalan Penghubung Dusun II Ledong Barat & Tanjung Sari Permai Tanah Rendah Mengkhawatirkan. – Berita24Jam
LABURA, Berita24Jam.ID – Kondisi aliran Sungai Belimbing yang menyusuri wilayah Dusun II Desa Ledong Barat dan Tanah Rendah, Perumahan Tanjung Sari Permai, Kelurahan Aek Kanopan, mulai mengkhawatirkan. Gerusan air sungai kini disebut hanya berjarak sekitar satu meter dari badan jalan yang menjadi akses penghubung antarlingkungan.
Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran warga, terutama di tengah tingginya curah hujan dalam beberapa waktu terakhir. Jika abrasi terus berlangsung tanpa penanganan, badan jalan yang selama ini masih cukup baik dan nyaman dilalui warga dikhawatirkan mengalami kerusakan hingga berpotensi terputus.
Ruas jalan tersebut memiliki peran penting bagi aktivitas masyarakat karena menjadi jalur penghubung antara warga Dusun I dan Dusun II Desa Ledong Barat dengan kawasan Tanah Rendah, Perumahan Tanjung Sari Permai.
Warga berharap pemerintah segera mengambil langkah pencegahan sebelum gerusan air sungai semakin mendekati badan jalan.
Pantauan di lokasi pada Rabu (23/9/2026), aliran Sungai Belimbing terlihat menyusuri kawasan permukiman warga. Pada sejumlah titik, tepian sungai mengalami pengikisan yang membuat jarak antara aliran sungai dengan badan jalan semakin dekat.
Kondisi ini dinilai perlu mendapat perhatian karena kawasan yang dilalui sungai kecil tersebut juga selama ini dikenal sebagai salah satu daerah yang rawan terdampak banjir.
Terlebih ketika intensitas hujan meningkat, debit dan arus air berpotensi semakin kuat sehingga dapat mempercepat proses pengikisan tanah di sepanjang bantaran sungai.
Secara umum, abrasi merupakan proses pengikisan daratan atau tanah di sekitar daerah aliran sungai maupun wilayah pesisir yang terjadi akibat hantaman dan arus air yang bersifat mengikis. Apabila tidak dikendalikan, proses tersebut dapat mengancam lahan, bangunan maupun infrastruktur yang berada terlalu dekat dengan aliran air.
Kekhawatiran serupa juga terlihat di sekitar Masjid Al-Hasanah yang berada di sepanjang aliran sungai tersebut.
Di sisi masjid, telah terlihat adanya bronjong yang dibuat secara swadaya oleh pengurus masjid sebagai upaya untuk menahan gerusan air dan mencegah abrasi semakin meluas.
Ketua BKM Masjid Al-Hasanah sekaligus warga setempat, Syahrul Adnan Hasibuan, berharap persoalan tersebut mendapat perhatian serius dari pihak terkait, khususnya Pemerintah Desa Ledong Barat dan Pemerintah Kabupaten Asahan.
Menurutnya, kondisi bantaran sungai yang semakin dekat dengan badan jalan membutuhkan langkah penanganan sebelum kerusakan menjadi lebih parah.

Ia berharap pemerintah dapat merespons keluhan warga dengan melakukan pembangunan bronjong di sejumlah titik aliran sungai yang dinilai rawan mengalami abrasi.
“Kami berharap pihak terkait, khususnya Desa Ledong Barat dan Pemkab Asahan, lebih peduli dan merespons cepat keluhan warga agar dapat membangun bronjong di sekitar aliran sungai yang terdampak,” ujar Syahrul saat dikonfirmasi awak media, Rabu (23/9/2026).
Syahrul juga meminta Pemerintah Desa Ledong Barat memasukkan usulan pembangunan bronjong tersebut dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) 2027.
Menurut dia, kebutuhan penanganan tersebut semakin mendesak mengingat jarak gerusan sungai dengan badan jalan saat ini diperkirakan tinggal sekitar satu meter.
“Hanya tinggal satu meter lagi jalan bisa putus kalau dibiarkan berlarut-larut,” katanya.
Ia menjelaskan, pengurus Masjid Al-Hasanah sebelumnya telah melakukan upaya mandiri dengan memasang bronjong di salah satu sisi aliran sungai sepanjang kurang lebih 100 meter.
Langkah tersebut dilakukan sebagai bentuk kepedulian pengurus masjid terhadap kondisi lingkungan sekaligus untuk mengurangi dampak gerusan air terhadap kawasan sekitar.
Namun, upaya swadaya tersebut dinilai belum cukup untuk menangani keseluruhan persoalan di sepanjang aliran sungai, terutama titik yang berada dekat dengan badan jalan penghubung antarwilayah.
Karena itu, warga berharap ada intervensi pemerintah melalui pembangunan infrastruktur pengaman bantaran sungai. Selain berfungsi mengurangi risiko abrasi, bronjong juga diharapkan dapat membantu melindungi badan jalan yang menjadi akses penting bagi aktivitas masyarakat.
Kondisi jalan yang saat ini masih tergolong baik membuat warga berharap kerusakan dapat dicegah sejak dini. Penanganan sebelum badan jalan terdampak dinilai lebih penting dibandingkan menunggu kerusakan terjadi dan kemudian melakukan perbaikan.
Apalagi, tingginya curah hujan belakangan ini menjadi salah satu faktor yang meningkatkan kekhawatiran masyarakat terhadap kondisi bantaran Sungai Belimbing.
Jika gerusan terus terjadi, bukan hanya badan jalan yang berpotensi terdampak. Infrastruktur dan kawasan permukiman yang berada di sekitar aliran sungai juga dapat menghadapi risiko apabila tidak ada langkah pengamanan.
Warga pun berharap persoalan tersebut dapat menjadi perhatian dalam perencanaan pembangunan desa maupun pemerintah daerah. Usulan pembangunan bronjong diharapkan tidak berhenti pada perencanaan, tetapi dapat ditindaklanjuti sesuai kebutuhan dan kondisi lapangan.
Bagi masyarakat sekitar, keberadaan jalan penghubung tersebut sangat penting untuk menunjang mobilitas sehari-hari. Karena itu, menjaga badan jalan dari ancaman abrasi menjadi bagian penting dalam mempertahankan akses masyarakat antara Dusun Ledong Barat dan kawasan Tanah Rendah.
Syahrul menegaskan, pengurus masjid bersama warga telah berupaya melakukan penanganan secara mandiri pada bagian yang berada di sekitar masjid. Namun, untuk mengamankan titik-titik lain yang semakin dekat dengan badan jalan, dibutuhkan dukungan pemerintah.
“Pihak masjid sudah melakukan upaya dengan membronjong sebelah kurang lebih 100 meter,” ujarnya.

Ia berharap perhatian pemerintah dapat segera diberikan sebelum kondisi tersebut berkembang menjadi persoalan yang lebih besar.
Dengan jarak abrasi yang disebut tinggal sekitar satu meter dari badan jalan, masyarakat meminta adanya langkah antisipasi sedini mungkin. Pembangunan bronjong di lokasi yang rawan dinilai menjadi salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi dampak gerusan air dan menjaga akses jalan tetap aman digunakan warga.
Persoalan ini sekaligus menjadi pengingat pentingnya pengelolaan bantaran sungai, terutama di kawasan yang memiliki riwayat rawan banjir. Penanganan yang dilakukan lebih awal diharapkan dapat mencegah kerusakan infrastruktur serta mengurangi risiko yang dapat merugikan masyarakat di kemudian hari.
Warga kini menunggu respons dari Pemerintah Desa Ledong Barat dan Pemerintah Kabupaten Asahan terhadap kondisi tersebut, termasuk kemungkinan memasukkan pembangunan bronjong dalam agenda Musrenbang 2027 sebagaimana diharapkan masyarakat.
(Greg)
Yuk! baca artikel menarik lainnya di GOOGLE NEWS
Atau ikuti saluran Pojokredaksi.com di WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029VaZI37C5fM5j3NDDF61G
Post Views: 6










