ProKlim Musi Rawas Dorong Ekonomi Desa dan Ketahanan Iklim – Berita24Jam

Musi Rawas, Berita24Jam.ID – Perubahan iklim kini bukan lagi sekadar wacana global yang terasa jauh dari kehidupan sehari-hari. Dampaknya telah nyata dirasakan hingga ke tingkat desa, memengaruhi sektor pertanian, ketersediaan air, hingga stabilitas ekonomi masyarakat. Menjawab tantangan tersebut, program Strengthening Village-Based Climate Action and Livelihoods (ProKlim) menggelar kegiatan field visit di Kabupaten Musi Rawas, Sumatera Selatan, pada 28–29 April 2026.

Kegiatan yang dipusatkan di Desa Sadar Karya dan Desa Megang Sakti IV ini menjadi titik penting dalam memperkuat kolaborasi lintas sektor, sekaligus mempertegas bahwa solusi perubahan iklim harus dimulai dari tingkat lokal dengan melibatkan masyarakat sebagai aktor utama.

Kolaborasi Nyata Hadapi Krisis Iklim

ProKlim Musi Rawas lahir dari kesadaran bahwa dampak perubahan iklim semakin kompleks. Peningkatan suhu global, perubahan pola curah hujan yang tidak menentu, hingga meningkatnya potensi bencana hidrometeorologi menjadi ancaman nyata bagi keberlangsungan hidup masyarakat desa.

Melalui pendekatan kolaboratif, program ini melibatkan berbagai pihak mulai dari lembaga internasional, sektor swasta, pemerintah pusat, hingga pemerintah daerah. Sinergi ini bertujuan membangun sistem adaptasi dan mitigasi yang tidak hanya kuat secara konsep, tetapi juga efektif di lapangan.

Perwakilan PT Sucofindo menegaskan bahwa tujuan utama dari program ini adalah meningkatkan kapasitas masyarakat dalam menghadapi perubahan iklim melalui aksi nyata berbasis komunitas. Pendekatan ini dinilai lebih berkelanjutan karena melibatkan langsung masyarakat sebagai pelaku utama perubahan.

Kegiatan ini juga dihadiri oleh berbagai pemangku kepentingan, termasuk perwakilan Pemerintah Kabupaten Musi Rawas, jajaran PT Sucofindo (Persero), serta instansi terkait lainnya, yang menunjukkan komitmen bersama dalam mendukung program ini.

Aksi Lapangan: Dari Lingkungan hingga Ekonomi

Berbeda dari program yang hanya berhenti pada tataran diskusi, ProKlim Musi Rawas menghadirkan berbagai aksi konkret yang langsung dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Salah satu kegiatan utama adalah penghijauan melalui penanaman 350 bibit pohon petai. Pemilihan jenis tanaman ini bukan tanpa alasan. Selain berfungsi sebagai penyerap karbon dioksida (CO₂) dan meningkatkan tutupan vegetasi, pohon petai juga memiliki nilai ekonomi yang menjanjikan bagi masyarakat dalam jangka panjang.

Selain itu, inovasi pengelolaan lingkungan turut diperkenalkan melalui demonstrasi Waste Management System di Bank Sampah Unit Desa Sadar Karya. Sistem ini dirancang untuk mengurangi volume limbah sekaligus menekan emisi gas rumah kaca dari sektor sampah.

Tidak hanya fokus pada lingkungan, program ini juga menyentuh aspek ekonomi melalui mini expo UMKM yang melibatkan 10 desa. Berbagai produk lokal dipamerkan sebagai bukti bahwa adaptasi perubahan iklim dapat berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Salah satu yang menarik perhatian adalah rumah produksi Keripik Fatiha, yang menunjukkan bagaimana produk olahan lokal mampu memiliki nilai jual lebih tinggi dibandingkan bahan mentah.

Edukasi Jadi Kunci Keberlanjutan

Keberhasilan program tidak hanya ditentukan oleh aksi fisik, tetapi juga oleh peningkatan kapasitas masyarakat. Oleh karena itu, ProKlim Musi Rawas juga menekankan pentingnya edukasi, baik dalam bentuk literasi iklim maupun literasi digital.

Masyarakat diberikan pemahaman tentang praktik pembukaan lahan yang ramah lingkungan tanpa pembakaran, yang selama ini menjadi salah satu penyebab utama kebakaran hutan dan lahan.

Selain itu, pelatihan bagi Masyarakat Peduli Api (MPA) di Desa Megang Sakti IV juga dilakukan dengan pendampingan dari trainer profesional. Pelatihan ini bertujuan meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi potensi kebakaran hutan dan lahan.

Pendekatan edukatif ini diharapkan mampu menciptakan perubahan perilaku yang berkelanjutan, sehingga masyarakat tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga agen perubahan di lingkungannya masing-masing.

Transformasi Ekonomi Perempuan Desa

Salah satu dampak paling signifikan dari program ini terlihat pada Kelompok Wanita Tani (KWT) Desa Sadar Karya. Kelompok ini berhasil melakukan transformasi ekonomi yang sebelumnya bergantung pada pekerjaan sebagai buruh kebun, kini beralih menjadi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Transformasi ini didorong oleh rendahnya harga jual komoditas mentah seperti singkong dan kacang-kacangan. Melalui pendampingan intensif dari PT Sucofindo, para ibu rumah tangga dilatih untuk mengolah hasil pertanian menjadi produk bernilai tambah tinggi.

Umi Kalsum, salah satu pelopor KWT, mengungkapkan bahwa program ini memberikan dampak nyata terhadap peningkatan pendapatan keluarga. Tidak hanya dari sisi produksi, para anggota juga mendapatkan akses pasar yang lebih luas serta pemahaman manajemen usaha.

Menurutnya, keberhasilan ini menjadi bukti bahwa perempuan desa memiliki peran strategis dalam memperkuat ekonomi lokal. Dengan keterampilan yang tepat, mereka mampu menjadi motor penggerak ekonomi keluarga sekaligus berkontribusi pada pembangunan desa.

Model Replikasi untuk Desa Lain

Dengan melibatkan sekitar 95 peserta dari berbagai latar belakang, ProKlim Musi Rawas menjadi contoh nyata bagaimana kolaborasi lintas sektor dapat menghasilkan dampak yang signifikan.

Dokumentasi dan pelaporan yang dilakukan secara sistematis menjadi salah satu kekuatan program ini. Hasil pembelajaran dari Desa Sadar Karya diharapkan dapat direplikasi di desa-desa lain di Indonesia, sehingga manfaatnya bisa dirasakan lebih luas.

Pendekatan berbasis komunitas yang dikombinasikan dengan dukungan teknologi dan kemitraan strategis menjadikan program ini sebagai model yang relevan dalam menghadapi krisis iklim global.

Dari Desa untuk Masa Depan

ProKlim Musi Rawas menegaskan bahwa solusi perubahan iklim tidak harus selalu dimulai dari kebijakan besar di tingkat nasional. Justru, langkah-langkah kecil yang dilakukan secara konsisten di tingkat desa memiliki dampak yang sangat besar jika dilakukan secara kolektif.

Dengan semangat gotong royong, masyarakat Desa Sadar Karya dan Desa Megang Sakti IV menunjukkan bahwa ketahanan iklim dan kemandirian ekonomi dapat berjalan beriringan.

Program ini menjadi bukti bahwa ketika masyarakat diberdayakan dan didukung dengan strategi yang tepat, mereka mampu menjadi garda terdepan dalam menjaga kelestarian lingkungan sekaligus meningkatkan kesejahteraan.

“Hijau Desanya, Tangguh Masyarakatnya, Lestari Alamnya” bukan sekadar slogan, tetapi visi yang mulai terwujud melalui aksi nyata di lapangan.

(Vhio)

Yuk! baca artikel menarik lainnya di GOOGLE NEWS
Atau ikuti saluran Pojokredaksi.com di WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029VaZI37C5fM5j3NDDF61G

Post Views: 14

Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *