Huntara di Manggarai Timur Roboh Diguncang Gempa M5,3, Warga Soroti Konstruksi – Berita24Jam
MANGGARAI TIMUR, Berita24Jam.ID — Hunian sementara (Huntara) yang diperuntukkan bagi korban gempa bumi di Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), roboh setelah wilayah tersebut kembali diguncang gempa bumi susulan berkekuatan magnitudo 5,3 pada Senin, 21 September 2026.
Bangunan Huntara yang berada di Kampung Ronting, Desa Satar Kampas, Kecamatan Lamba Leda Utara, Kabupaten Manggarai Timur, tersebut dilaporkan ambruk hingga rata dengan tanah. Peristiwa itu kemudian terekam dalam video yang beredar luas di media sosial.
Gempa berkekuatan magnitudo 5,3 tersebut terjadi pada pukul 08.41.37 WITA. Berdasarkan informasi yang beredar dalam laporan mengenai kejadian itu, pusat gempa berada di darat, sekitar 34 kilometer timur laut Ruteng, dengan koordinat 8,33 Lintang Selatan dan 120,59 Bujur Timur, pada kedalaman 10 kilometer.
Video detik-detik robohnya Huntara tersebut diunggah ke Reels Facebook oleh akun Nursia Har pada Senin siang.
Dalam rekaman itu, terlihat bangunan Huntara telah roboh. Rangka yang menggunakan baja ringan tampak berserakan setelah bangunan diterjang guncangan gempa susulan.
Seorang warga yang berada dalam video menyebut bangunan tersebut baru selesai dibangun beberapa hari sebelum kejadian.
“Belum sampai tiga hari (setelah dibangun) sudah dirobohkan oleh gempa dengan kekuatan magnitudo 5,3 skala richter,” ujar warga tersebut dalam video.
Warga Soroti Kondisi Fondasi Huntara
Pascarobohnya bangunan tersebut, sejumlah warga menyoroti kualitas konstruksi Huntara yang dibangun untuk masyarakat terdampak gempa.
Pantauan di lokasi menunjukkan adanya bagian fondasi bangunan yang menurut warga tidak dibuat dengan penggalian terlebih dahulu, melainkan langsung dipasang di atas permukaan tanah.
Kondisi tersebut kemudian memunculkan pertanyaan dari warga mengenai metode pengerjaan dan kekuatan struktur bangunan, terlebih lokasi tersebut berada di wilayah yang masih mengalami aktivitas gempa.
“Kalau kita bangun rumah atau kuburan, kita pasti harus buat fondasinya dulu,” kata seorang warga.
Warga lainnya juga mempertanyakan material besi yang digunakan dalam pembangunan. Seorang warga yang tidak ingin disebutkan namanya menduga besi yang digunakan memiliki kualitas berbeda dibandingkan material yang mereka ketahui dibeli pemerintah.
“Dugaan kami besi yang dibeli ini sepertinya besi KW. Kenapa warnanya lain, tidak seperti yang dibeli oleh pemerintah,” ujarnya.
Warga tersebut meminta lembaga penegak hukum dan pihak berwenang melakukan pemeriksaan terhadap pembangunan Huntara di wilayah tersebut.
“Kami meminta kepada KPK untuk segera pantau pekerjaan Huntara tersebut yang berada di NTT ini,” katanya.
Namun, dugaan warga tersebut merupakan pernyataan yang perlu diverifikasi melalui pemeriksaan teknis maupun administrasi. Belum terdapat kesimpulan resmi dalam informasi yang dihimpun terkait adanya penggunaan material yang tidak sesuai spesifikasi ataupun penyimpangan anggaran.
Warga lain juga mempertanyakan asal-usul material yang digunakan.
“Yang bagus ‘Kastil’ itu kalau besi dari pemerintah. Kalau saya lihat ini, bukan ‘Kastil’, makanya kami mau tahu mereka beli di mana,” ujar warga sekitar.
Selain material, warga juga menyoroti ukuran fondasi yang disebut hanya sekitar 10 sentimeter.
“Lebar fondasi itu hanya 10 cm saja, sementara ini titik lokasi gempa,” kata warga tersebut.
Pembangunan Huntara Bernilai Rp34,5 Juta per Unit
Berdasarkan data yang dihimpun media, pembangunan Huntara di Desa Satar Kampas disebut memiliki pagu anggaran sebesar Rp34,5 juta.
Pekerjaan tersebut disebut dilaksanakan oleh CV Wae Ngali Permai, dengan pelaksana yang disebut bernama Aleksius Jasman.
Total pembangunan Huntara yang disebut dalam data tersebut mencapai 50 unit di Desa Satar Kampas.
Informasi mengenai nilai anggaran, pelaksana pekerjaan, jumlah unit, serta spesifikasi teknis menjadi bagian penting yang perlu diperiksa apabila terdapat dugaan ketidaksesuaian dalam pembangunan.
Terlebih, Huntara tersebut dibangun sebagai tempat tinggal sementara bagi masyarakat yang terdampak bencana dan kehilangan atau mengalami kerusakan berat pada rumah mereka.
Pemeriksaan dapat mencakup kesesuaian material dengan spesifikasi pekerjaan, metode pelaksanaan konstruksi, kualitas fondasi, serta kesesuaian pekerjaan dengan dokumen pengadaan dan kontrak.
Pemkab: Huntara yang Roboh Masih dalam Pembangunan
Sementara itu, Wakil Bupati Manggarai Timur Tarsisius Sjukur memberikan penjelasan berbeda mengenai kondisi Huntara yang roboh.
Dalam pemberitaan mengenai kejadian tersebut, Tarsisius menyebut seluruh Huntara di Kabupaten Manggarai Timur masih dalam proses pembangunan dan belum seluruhnya memasuki tahap akhir.
Karena itu, ia menyatakan bangunan yang roboh tersebut belum mencapai kekuatan penuh dan belum ditempati oleh masyarakat penerima.
“Huntara yang roboh itu masih dalam tahap pembangunan, belum ditempati oleh masyarakat penerima, sehingga yang roboh itu mungkin karena bangunan belum mencapai kekuatan penuh,” kata Tarsisius sebagaimana diberitakan.
Tarsisius juga membantah anggapan bahwa material pembangunan Huntara tidak kuat atau tidak tersedia.
Menurut dia, material pembangunan telah tersedia di lokasi dan menjangkau wilayah-wilayah yang cukup jauh.
Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur sendiri menyebut pembangunan Huntara dilakukan secara bertahap. Total Huntara yang direncanakan untuk wilayah Manggarai Timur mencapai 2.029 unit.
Pembangunan tersebut ditujukan bagi warga yang rumahnya mengalami kerusakan berat akibat gempa.
2.029 Huntara Disiapkan untuk Korban Gempa
Sebelum peristiwa robohnya Huntara di Lamba Leda Utara, pemerintah bersama BNPB telah memulai pembangunan dan penyerahan Huntara bagi korban gempa di Manggarai Timur.
Pada 17 September 2026, BNPB bersama Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur menyerahkan salah satu Huntara kepada warga terdampak di Kampung Bugis, Kelurahan Rana Loba, Kecamatan Borong.
Huntara tersebut berukuran 4 x 6 meter dan dibangun menggunakan rangka baja ringan serta dinding kalsiboard. Bangunan juga dilengkapi fasilitas dasar berupa kamar mandi, toilet dan instalasi listrik.
Direktur Penanganan Darurat Wilayah II BNPB, dr. Riswandi, menyebut sebanyak 2.029 Huntara akan dibangun di Kabupaten Manggarai Timur untuk warga dengan rumah rusak berat.
Pembangunan tahap awal dilakukan di Kecamatan Borong, kemudian dilanjutkan secara bertahap ke wilayah lain sesuai hasil pendataan kerusakan rumah.
Pemerintah juga memberikan bantuan bagi warga dengan kategori kerusakan rumah berbeda. Rumah rusak ringan mendapatkan bantuan sebesar Rp15 juta, sedangkan rumah rusak sedang mendapatkan Rp30 juta. Sementara warga dengan rumah rusak berat mendapatkan penanganan melalui pembangunan hunian sementara sebelum dilanjutkan dengan pembangunan hunian tetap.
Ribuan Rumah Rusak Akibat Gempa

Pembangunan Huntara merupakan bagian dari penanganan pascabencana gempa bumi yang mengguncang Flores pada 15 Agustus 2026.
Manggarai Timur termasuk wilayah yang mengalami dampak kerusakan akibat gempa tersebut. Data yang disebut dalam naskah awal mencatat ribuan rumah mengalami kerusakan dan membutuhkan penanganan pemerintah.
Dengan jumlah Huntara yang mencapai 2.029 unit, kualitas pembangunan menjadi perhatian penting karena bangunan tersebut diperuntukkan bagi masyarakat yang sebelumnya kehilangan tempat tinggal atau tidak dapat lagi menempati rumah akibat kerusakan berat.
Robohnya salah satu Huntara di Lamba Leda Utara setelah gempa susulan magnitudo 5,3 pun memunculkan pertanyaan mengenai proses pembangunan, terutama terkait kondisi bangunan ketika gempa terjadi.
Di sisi lain, pemerintah daerah menyatakan bangunan yang roboh belum selesai dikerjakan sehingga belum mencapai kekuatan penuh.
Dengan adanya dua informasi tersebut, diperlukan pemeriksaan teknis yang objektif untuk mengetahui penyebab pasti robohnya bangunan, termasuk apakah faktor gempa, tahap pengerjaan, metode konstruksi, material, fondasi, atau faktor lainnya.
Hal tersebut penting dilakukan agar pembangunan ribuan Huntara di Manggarai Timur benar-benar memenuhi kebutuhan keselamatan warga terdampak bencana.
Apalagi, Huntara bukan sekadar bangunan sementara, tetapi menjadi tempat tinggal masyarakat yang sedang berada dalam kondisi rentan setelah kehilangan rumah akibat bencana.
Peristiwa di Kampung Ronting diharapkan menjadi bahan evaluasi bagi seluruh pihak yang terlibat dalam pembangunan Huntara. Pemeriksaan terhadap kualitas pekerjaan dan kesesuaian pelaksanaan dengan spesifikasi teknis juga dapat memberikan kepastian kepada masyarakat mengenai keamanan bangunan yang nantinya akan ditempati.
Dengan demikian, pembangunan Huntara untuk korban gempa dapat berjalan sesuai ketentuan, tepat sasaran, serta memberikan tempat tinggal sementara yang aman bagi masyarakat terdampak selama proses pemulihan dan pembangunan hunian tetap berlangsung.
(Aristo)
Yuk! baca artikel menarik lainnya di GOOGLE NEWS
Atau ikuti saluran Pojokredaksi.com di WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029VaZI37C5fM5j3NDDF61G
Post Views: 5










